TEKNOLOGI SOUND SYSTEM MASA DEPAN

TEKNOLOGI SOUND SYSTEM MASA DEPAN

TEKNOLOGI SOUND SYSTEM MASA DEPAN

Komputerisasi sound atau lebih lengkapnya komputerisasi sound system aku kaprah telah tak lama lagi akan hadir. Pedoman-pedoman dan isu terhangat ke arah itu telah kian terang dengan hadirnya mixer komputerisasi, teknologi power amplifier komputerisasi yang ringkas dan ringan sehingga gampang untuk diintegrasikan ke kotak speaker menjadi speaker aktif, mikrofon dengan output komputerisasi yang konek ke USB, komputerisasi snake dan tentu saja network komputerisasi audio multi channel.

Jadi sound system masa depan tak akan ada lagi sambungan-sambungan kabel analog, semuanya instalasi dari microphone sampai ke speaker system mengaplikasikan kabel komputerisasi seperti Cat5. Sehingga instalasi sound system dalam suatu project/event tak lagi nampak kabel mic yang demikian itu banyak bagaikan spaghetti yang awut-awutan dan susah untuk mencari lagi channel/kabel mana yang bermasalah. Malah nantinya hampir segala microphone atau instrument mengaplikasikan wireless komputerisasi sehingga di pentas tak lagi ditemui banyak sekalai instalasi kabel-kabel audio.

Baca : Sewa sound system

Sebelum kita bahas lebih lanjut apa itu komputerisasi sound system, kita lihat dahulu konsep sound system sampai kaprah-kaprah 5 tahun yang lalu. Mixer komputerisasi memulai perubahan itu sehingga skema suatu project sound system. Hal yang terlihat pada metode ini yakni hadirnya mixer komputerisasi yang menggantikan peran mixer analog. Dengan mixer komputerisasi banyak perangkat yang dapat diintegrasikan ke dalamnya seperti beragam processor bunyi dan equaliser grafik. Dengan mixer komputerisasi tak perlu lagi membawa rack processor bunyi dan rack equaliser grafik. Dengan mixer komputerisasi, seluruh setting dari satu group yang tampil dapat disimpan untuk nanti dipanggil kembali sehingga dapat menghemat banyak channel mixer sebab banyak channel dapat diaplikasikan bersama dengan setting yang tinggal dipanggil saja. Melainkan instalasi lain masih hampir sama adalah masih dibutuhkan snake cable dari pentas ke FoH. Instalasi ke speaker utama LR dan ke monitor, masing-masing semestinya diinstalasi dengan kabel audio analog dari satu output mixer ke satu input crossover/power amplifier atau speaker aktif. Contoh ini seperti dibeberkan oleh mixer komputerisasi Yamaha M7CL, Presonus StudioLive 32.4.4, Behringer X32, Mackie TT24, Tascam, Soundcraft dan lainnya.

Perkembangan berikutnya dengan mulai diperkenalkannya jaringan audio komputerisasi seperti ACE dan dSnake dari Allen-Heath, ES (EtherSound), Dante, Madi, AES50 yang dipakai Midas dan Behringer, REAC oleh Roland dan lainnya membawa perubahan cukup signifikan sebab instalasi kabel analog menjadi betul-betul berkurang. Paling tak penggunaan snake cable menjadi tak dibutuhkan lagi. Dalam metode ini jaringan audio komputerisasi menggantikan peran snake cable sebagai backbone untuk pengiriman sinyal audio dari masing-masing microphone di pentas ke mixer komputerisasi di FoH. Berikutnya mixer mengirimkan kembali sinyal hasil mixing ke pentas lewar jaringat audio komputerisasi yang sama. Stagebox di pentas berperan sebagai penyedia input (dari mic) dan output (hasil mixing). Metode inilah yang masih diaplikasikan sampai ketika ini.

Terkait : Sewa organ tunggal

Generasi selanjutnya yakni perkembangan dari yang diaplikasikan kini. Pada metode masa depan, network audio komputerisasi menjadi tulang punggung (backbone) segala instalasi perangkat sound system. Mixer komputerisasi menjadi sentra operasi dengan network audio komputerisasi menjadi tulang punggung segala transmisi input dan output. Perbedaan yang mencolok diperhatikan pada:

1. Metode speaker sudah mengaplikasikan speaker aktif. Perbedaannya speaker aktif ini sudah dapat mendapatkan audio komputerisasi multi channel seperti pada standard protokol Ultranet (Behringer), PL-Anet (Allen-Heath), A-net (Aviom) dan lainnya. Atau pun speaker aktif ini sudah dapat mendapatkan network audio komputerisasi seperti ACE (Allen-Heath), AES50 (Midas & Behringer), Madi, Dante dan lainnya. Dalam hal ini, speaker aktif hal yang demikian tinggal diset untuk memilih audio komputerisasi dari channel yang mana? atau diset untuk mencampur sebagian channel audio komputerisasi yang tersedia. Instalasi segala mengaplikasikan kabel Cat5. Instalasi dijalankan dengan metode berjajar dari satu speaker ke speaker yang lain. Urutan deretan instalasi tak penting sebab tiap speaker nanti dapat diset untuk mendapatkan channel tertentu saja.

2. Microphone sudah berisi preamp mic dan ADC (Analog to Komputerisasi Converter) sehingga output mic yakni sinyal komputerisasi dengan standard protokol tertentu. Nantinya tiap mic yang dipakai diset dahulu nomer channel yang akan diaplikasikannya dalam network audio komputerisasi. Kabel instalasi segala juga mengaplikasikan Cat5 dengan instalasi tiap mic dengan dengan metode berjajar. Secara akal, sebab dalam tiap mic telah terdapat preamp mic dan ADC, karenanya segala microphone akan diciptakan dalam format wireless. Dalam hal ini, instalasi kabel Cat5 dijalankan di komponen receiver mic wireless-nya.

3. Mixer komputerisasi nantinya tak perlu dilengkapi dengan preamp mic sehingga cuma berisi DSP-nya saja. Contoh ini tentu akan menurunkan harga mixer komputerisasi itu sendiri. Tak dibutuhkan ladi I/O stage box sebab peran ini masing-masing telah ada dalam tiap mic dan speaker aktif.

4. Pada prinsipnya network komputerisasi untuk input dari mic ke mixer dan output dari mixer ke speaker dapat mengaplikasikan kabel yang sama. Umpamanya mengaplikasikan AES50 akan dapat berisi 48 channel input dan 48 channel output. Atau ACE (64 channel input dan 64 channel output) atau yang lain. Tapi mungkin untuk mempermudah instalasi dan troubleshooting dapat saja network audio dipisahkan untuk input dan output.

5. Dapat ditambahkan HUB untuk mempermudah instalasi sebab dengan hub dapat dijalankan instalasi kabel Cat5 tak semestinya berjajar. Hub berfungsi seperti sub snake pada insatalasi audio analog. Satu hub dapat memiliki 8 input atau 16 input dengan sebagian output.

Profit

1. Instalasi menjadi gampang dan nampak rapi tak awut-awutan sebab jumlah kabel menjadi jauh berkurang.

2. Sinyal audio menjadi jauh lebih baik sebab bebas gangguan noise atau interferensi atau hum. Crosstalk antar channel berkurang.

3. Harga sempurna aset yang dibutuhkan mungkin dapat turun sebab segala metode telah dalam format komputerisasi dan jumlah ADC ataupun DAC menjadi jauh berkurang.

4. Harga mixer komputerisasi tak lagi diatur oleh jumlah input mic dan output LR+AUX namun kecakapan dalam processing bunyi.

Kekurangan

1. Perlu persiapan SDM lagi

2. Tiap-tiap mic atau speaker aktif dapat tak kompatibel ke dalam metode network mixer digitalnya sehingga tak dapat dipakai. Ini menuntut standardisasi network audio komputerisasi meski ini susah ditempuh.

3. Kalau satu kabel network terganggung/terputus karenanya semua input atau output akan mati. Meskipun ini dapat diselesaikan dengan jaringan berbasis hub dan loop.

 

 

 

Terkait : Sewa lighting