“Akad” Payung Adem dan Daftar Nyanyian Pesta Pernikahan

“Akad” Payung Adem dan Daftar Nyanyian Pesta Pernikahan

"Akad" Payung Adem dan Daftar Nyanyian Pesta Pernikahan
Apabila menyebut nama-nama band Indonesia yang ketika ini sedang naik daun, Payung Adem pasti ada di antara nama itu. Apalagi sesudah mereka merilis nyanyian “Akad.” Secara teknis, nyanyian ini punya segala prasyarat untuk jadi hits. Musik yang renyah di telinga, juga lirik yang dianggap romantis. Semenjak dirilis pada Juni 2017, video klip nyanyian ini ditonton sebanyak 11 juta kali. Sayang, sebab ada satu foto yang dianggap melanggar hak cipta, video itu dihapus dari Youtube. Video substitusinya diunggah 4 September 2017. Dalam waktu singkat, video itu telah ditonton 3,2 juta kali. Nyanyian itu juga banyak dikover oleh pemusik lain. Yang paling populer yakni versi Hanin Dhiya. Penyanyi muda tamatan arena pencarian talenta Rising Star Indonesia itu men-upload kover “Akad” pada 23 Agustus silam. Sampai tulisan ini ditulis, videonya telah ditonton 13,4 juta kali. Kalau kau mengetik kata kunci “Akad kover”, karenanya ada setidaknya 62 ribu hasil. Dari video buatan pengamen Yogyakarta, nyanyian yang digubah jazzy, sampai ala dangdut koplo. Semuanya mendulang banyak penayangan. Mulai ribuan, sampai 13 juta. Tidak heran bila semenjak sebagian hari lalu, nyanyian “Akad” menempati posisi puncak dalam popularitas di Youtube Indonesia. Tetapi di luar seluruh trennya, nyanyian “Akad” cukup mengundang pembicaraan asyik soal liriknya. Di sisi penyokong, lirik nyanyian “Akad” romantis, ideal untuk mereka yang dimabuk romansa, dan akan layak dimainkan di pesta pernikahan manapun. Meskipun yang tidak menyukai, akan meringis dan menganggap liriknya yakni penurunan dari mutu lirik Payung Adem sebelumnya. Payung Adem punya pengalaman panjang membikin nyanyian romantis, melainkan rasanya belum pernah sefrontal ini. “Lirik  ‘Akad’ cocoknya buat mereka yang ngebet nikah,” kata seorang kawan.

Baca : Wedding band jakarta

Sedangkan nyanyian itu mengundang pro kontra dan dianggap sebagai penurunan mutu lirik, ada yang tidak peduli dengan itu segala. Namanya Maman, kawan lama aku. Payung Adem senantiasa punya posisi khusus di hati kawan satu itu. Dia akan senantiasa ingat bagaimana Payung Adem memainkan nyanyian “Berdua Saja” pada bulan September 2011 yang hangat. Di acara bertajuk By the Lake Festival yang diadakan di tepi danau Universitas Indonesia, Payung Adem mulai main ketika sang surya pelan karam. Dikala itu Payung Adem mulai diketahui sebagai band moncer dari kelompok sosial Teater Pagupon, golongan teater di bawah naungan Ikatan Keluarga Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Istiadat. Mereka memang belum terlalu diketahui di luar Jakarta, melainkan punya segala bekal untuk jadi membumbung. Musik mereka simpel, cuma berbekal gitar akustik, bass betot, dan gitar ukulele. Energi mereka, ujar sebagian penonton ketika itu, yakni liriknya. Banyak mengaplikasikan metafora. Puitis, ujar yang lain. Maman tidak pernah mendengar Payung Adem sebelumnya, apalagi menonton. Hakekatnya Maman datang ke UI untuk satu rencana: berjumpa dengan perempuan yang dia taksir. Mereka berdua pemalu. Sesudah berjumpa bahkan, mereka irit bicara

“Akad” Payung Adem dan Daftar Nyanyian Pesta Pernikahan. Cuma tersenyum sepanjang petang, kadang-kadang pandang dengan malu-malu, sampai acara berakhir. Dan Payung Adem seperti menjadi juru bicara mereka berdua. Ada yang tidak sempat tergambarkan Oleh kata dikala kita berdua Cuma saya yang dapat bertanya Mungkinkah kamu tahu jawabnya Malam jadi saksinya Kita berdua di antara kata Yang tidak terucap Berkeinginan waktu membawa keberanian Untuk datang membawa jawaban Aku, juga kawan-kawan yang menemani Maman untuk datang di hari itu, tidak dapat berkata-kata. Peristiwa seperti itu benar-benar jarang. Dua orang tidak banyak kapabel, melainkan tangan terus berkait seperti truk gandeng. Wajah mereka memerah, perpaduan rasa malu-kucing dan bahagia yang meluap-luap.

Masa depan terasa jauh, masa kuliah yang nyaris habis telah tidak terpikir lagi. Bagi dua orang itu, waktu membeku dan biarlah terus demikian itu. Petang itu Maman dan perempuan manis itu mengikat komitmen. Ditemani nyanyian “Untuk Perempuan yang sedang dalam Pelukan.” Tidak terasa gelap bahkan jatuh Di ujung malam, menuju pagi yang dingin Cuma ada sedikit bintang malam ini Mungkin sebab kamu sedang menawan-menawannya Sore itu, Maman dan kekasihnya yakni dua orang yang paling bersuka ria di dunia. Nyanyian dan Pesta Pernikahan Pada resepsi pernikahan, kecuali makanan ada hal lain yang hampir senantiasa ada: musik. Entah itu dari mp3, atau organ tunggal, atau band sewaan.

Terkait : Bali wedding band

Rasanya nyaris tidak ada pesta pernikahan tanpa musik. Dan nyanyian “Akad” dianggap sebagai nyanyian kekinian yang layak untuk diputar atau dimainkan di pesta pernikahan. Tidak salah, liriknya pas guna. Dia mengajari bahwa pernikahan tidak melulu berisi kebahagiaan. Memilih nyanyian untuk diputar di pernikahan itu mudah-mudah sulit. Banyak yang terjebak memilih suatu nyanyian cuma sebab sedang populer. Dikala nyanyian “Sephia” dari Sheila On 7 sedang di puncak ketenaran, aku sebagian kali mendengar nyanyian itu didendangkan di pesta pernikahan. Meskipun liriknya berkisah seputar kekasih gelap. Membikin daftar nyanyian pernikahan itu memang butuh fokus. Konsentrasinya tentu di lirik. Karena seluruh macam musik—berharap yang rancak maupun sendu—orang akan manggut-manggut saja. Tetapi soal lirik, dia akan jadi perhatian. Salah satu tutorial membikin daftar nyanyian (mixtape) dapat ditengok di novel High Fidelity (1995) karya Nick Hornby. Novel ini difilmkan pada tahun 2000, dibintangi John Cusack yang memerankan tokoh utama Rob Gordon. “Membikin kompilasi nyanyian itu yakni seni,” ujar Rob.

“Ada banyak yang boleh dijalankan dan jangan dijalankan. Pertama-tama, kau mengaplikasikan sajak orang lain untuk menyuarakan perasaanmu. Ini yakni hal yang kompleks.” Garis bawahi kata sajak. Ini artinya, sajak berupa lirik yakni pertimbangan penting dalam membikin kompilasi nyanyian, termasuk kompilasi nyanyian pernikahan. Lirik nyanyian dapat menjelma jadi doa bagi pasangan yang baru menikah. Karenanya tidak heran jikalau banyak orang mengernyitkan alis ketika “Sephia” diputar di pernikahan. Apa sang penyanyi ingin salah satu dari pengantin itu akan punya kekasih gelap? Membikin daftar nyanyian pernikahan juga wajib waspada. Ada nyanyian-nyanyian yang tampaknya romantis, melainkan menjebak. Yang paling populer yakni “Thinking Out Loud” dari solis Ed Sheeran. Spotify pernah merilis 50 daftar nyanyian paling sering kali diputar untuk pesta dansa pertama dalam pernikahan, dan nyanyian itu yakni pemuncaknya. Tetapi, ada satu hal yang membikin nyanyian ini sebetulnya kurang sesuai untuk diciptakan nyanyian pernikahan. Bait, And darling I will be loving you ’til we’re 70, itu betul-betul menjebak. Seolah usia manusia cuma hingga 70. Bagaimana di usia selepas 70? Apakah sang pengantin akan stop mencintai dan memastikan mencari gebetan muda? Terang nyanyian ini alternatif yang kurang pas.

Apabila membikin pengandaian, nyanyian “When I’m 64” milik The Beatles terdengar jauh lebih masuk logika, bahkan lebih layak untuk diputar di pernikahan. Nyanyian ini mempertanyakan: bila saya kian tua dan gundul, akankah kau konsisten mencintaiku? Apabila saya keluar rumah sampai 3 pagi, apakah kau bakal mengunci pintu? Lagu itulah. The Beatles di sini tidak sedang mau bermanis ria. Nyanyian cinta mereka juga berisi kebimbangan. Mereka berupaya memberi pandangan pada segala yang sedang dimabuk cinta: dalam pernikahan tidak cuma ada madu, melainkan juga sembilu. Perspektif serupa juga ditawarkan oleh Andy Liany. Di nyanyian “Sanggupkah” yang diciptakannya bersama Pay Burman itu, penyanyi tamatan Gang Potlot itu tidak berharap bermanis belaka. Apakah dia mampu hidup bersama kekasih selamanya, apakah dia dapat hidup tanpa kekasihnya? Dia tidak tahu jawabannya, hanya waktu yang dapat jawab. Kebimbangan itu dipungkasi dengan satu kalimat penting: Jalan masih panjang Jangan sebut komitmen Nikmatilah cintamu hari ini

Terkait : Bali wedding band

Tetapi memang rayu gombal itu yakni hal penting. Dia yakni gula dalam secangkir teh yang diberi tahu setiap pagi, garam dalam tumis buncis yang disantap setiap siang, dan mentega yang dioleskan pada roti. Karenanya percintaan terasa hambar tanpa bujuk rayu. Peradaban boleh maju, manusia jadi makin jago, melainkan bujuk rayu, seni menggombal omong kosong dan bermulut manis tidak jua punah. Karenanya di sana, boleh lah kau memutarkan tembang-tembang klasik yang tidak lekang waktu. Frank Sinatra yakni alternatif yang nyaris tidak pernah salah, dan “The Way You Look Tonight” dapat diputar di pesta pernikahanmu. Some day, when I’m awfully low, When the world is cold, I will feel a glow just thinking of you And the way you look tonight. Satu hal yang pasti, semenjak industri musik lahir, ada ribuan nyanyian yang dapat kau pilih untuk diputar di pernikahanmu. yang untuk joget riang, atau menari perlahan, senantiasa ada musik pengiring yang ideal. Dari era Elvis Presley sampai Justin Bieber, dari Aretha Franklin hingga Taylor Swift. Tinggal pilih saja, dan jangan lupa memakai slogan kewaspadaan. Selamat memilih!